Ada bidang berukuran sekitar satu kali satu setengah meter persegi yang disemen, di antara kerikil-kerikil batu, di samping garis pembatas bahu jalan, di pinggir jalan raya aspal. Aku sudah memperhatikannya sejak tadi, beberapa kali. Sangat menggoda. Akhirnya, aku mengeluarkan tikar dari mobil Avanza, menutup secukupnya bidang semen rata itu. Rebah, dan dalam hitungan detik, kantuk berat segera membawaku ke alam tidur. Di antara deru bus dan truk yang melaju dan raungan sepeda motor anak-anak muda bermalam minggu. Di antara hentakan lagu ajeb-ajeb, berselang seling dengan suara melankolis mendayu, dari seberang jalan, warung Angkringan MasBro penjual nasi kucing dan sate yang ramai pengunjungnya, silih berganti datang dan pergi.

“Kapan pelari berikutnya akan tiba?”


Pelataran depan Gedung Sate, Bandung, Jumat 10 November 2023, menjelang pukul 11 malam. Empat puluh lima pelari bersiap di gate start sederhana, menjelang pelepasan JaBar Ultra 2023, untuk menempuh Bandung-Cirebon sejauh 161K.

“Gak gatel, Om, ngeliatinnya…?”
“Hahaha, kagak! Gue pelayanan ajah, jadi penjaga WS.”

Begitulah, selepas pelari start tepat pukul 11.00 malam, mobil WS (water station) kami (berempat bersama HaWong & Jul, dan driver Ilham), langsung beranjak melaju, melewati satu per satu para pelari menembus malam kota Bandung. WS mobile kami bernomor 5, akan bertugas di WS6 KM60 dan berikutnya nanti di WS13 KM130. Dengan perkiraan pelari pertama akan tiba di KM60 secepat-cepatnya pukul 4 pagi, kami masih sempat singgah di CP1 (check point satu) di KM40, untuk makan tengah malam panitia, dibekali kotak snack, sekaligus loading beberapa keperluan tambahan, melengkapi kebutuhan para pelari. Pukul 2 kurang, menjelang pelari pertama tiba di CP1 ini, mobil WS kami berangkat menuju titik. Cus.

“WS, tugas perdana, here we go!”

(Melewati potongan rute yang sama dengan NusantaRun 2015 Bandung-Cirebon, delapan tahun silam, aku bernostalgia, melo-melo dikit gitu, membayangkan saat tengah malam seperti ini berhadapan dan berebut jalan dengan bus-bus dan truk-truk sebesar Transformer yang melintas lalu lalang, yang sekarang jauh lebih sepi, karena ada alternatif jalan toll. “Tuh gatel kan?” “Kagak!”)

Kami tiba sebelum pukul 3. Beruntung tidak mepet jam 4, karena hanya berselang satu jam kemudian, nyatanya pelari pertama telah tiba. Kurang dari 5 jam untuk jarak 60K! Edun sekali, kencangnya kebangetan! JaBar Ultra 2023 menyediakan dua kategori, individu 161K putra dan putri, dan kategori relay dua, jarak segitu dibagi dua pelari, yang dibagi lagi 3 kelompok, pasangan putri putri, putra putra, dan putri putra. Pelari putra kita ini memang relay, “hanya” sampai CP2 di KM80 untuk selanjutnya berganti dengan teman relay putranya menempuh sisa 81K. Tapi tetap saja gokil! Ugal-ugalan begitu, lari tengah malam sekencang itu pula. (Yakinlah kalau makhluk-makhluk halus sepanjang jalan juga ogah gangguin, ngos-ngosan ngejarnya.) Mengisi minum, gercepcep cepat-cepat, langsung bergegas lanjut ngebut kembali. “Jajanan warung WS” kami, teh manis hangat, kopi panas, semangka potong, pisang buah, tolak angin, popmie, roti tawar, jelly, cokelat, coca cola, sprite, teh pucuk, semua tidak laku. Mengsedih.

Hanya berselang sekitar 10 menit, empat pelari gokil berikutnya masuk, satset satset, mengisi wadah minum, dan sebentar saja mereka sudah menghilang. “Warung” kembali tidak laku. Hiks. Sedih lho kalau penjaga WS gak laku dagangan gratisannya. Sungguh. Para pelari gokil “kasta whoosh” ini tidak hanya membuat panitia sedih (kidding!), tetapi juga membuat panitia pontang panting (seriously!), nantinya di penggal kedua, saat para pelari tandemnya beraksi. Karena WS mobile yang ada, total lima, masih harus melayani pelari-pelari yang di belakangnya dan yang jaauuuh di belakangnya, sementara mereka terus saja melaju. Jadilah diadakan tambahan WS mobile darurat dadakan, khusus melayani para gokilers ini. Fine, no problem, terus aja nge-whoosh!


Sorot matanya berbinar bahagia. Tentu saja. Dia peraih podium pertama pelari individu putra. Namun sorot mata bahagianya juga sekaligus memancarkan ucapan terima kasih, seperti diucapkannya sendiri, “Terima kasih Om sudah support…”, saat kami bertemu di area finish, setelah dia naik panggung dan menerima penghargaan atas perih lelahnya. Aku mengingat kembali sorot matanya, sorot mata tergesa-gesanya, saat memasuki WS6, pelari individu pertama, bersama dua pelari individu lainnya. Sabtu subuh, pukul 04.50, enampuluh kilometer telah ditempuh, tidak butuh istirahat lama, sudah langsung lanjut. Kemudian di WS13, saat dia tiba, sendirian, sorot mata tergesa-gesanya tetap tampak, pun setelah tambahan tujuhpuluh kilometer, setelah panas terik menyiksa, setelah hujan lebat mengguyur. Ketika seorang pelari di belakangnya mendekat, aku spontan mencium bau kepanikan. “Isi ulang airnya? Bro, ambil relay cowok-cowok atau mix?”, aku menyapa pelari yang baru tiba itu. Dengan penekanan berat pada kata “relay”. Bersyukur, bau kepanikan langsung menguap bersama udara lembap di Sabtu petang itu. Pelari calon juara kita berangsur rileks. Setelah minum dan makan pisang secukupnya, berpamitan, dia lanjut berlari. Selamat menuju podium, Fau!


“Duh, poninya rusak deh!”
“Gak kok, masih tetap cantik!”
Siraman air di kepala jangan sampai merusak penampilan, begitu rahasianya. Rumus untuk pelari putri. Khususnya Mei. (Mungkin karena pelari ultra menempuh jarak yang sangat jauh, bertemu dengan lebih banyak orang, jadi harus sangat memperhatikan penampilan? Make sense!) Pelari jebolan Spartathlon Ultra Race 246K ini menjadi pelari individu putri pertama yang tiba di WS6. Sekaligus pelari putri pertama. Bukan kaleng-kalengan. Seperti pelari-pelari putra di depannya, hanya mengisi air minum, dan segera melanjutkan kembali, setelah tadi mengacak-acak sendiri poninya dengan guyuran air. Lantas ketemu lagi di WS13, 130 kilometer sejak start. Kali ini tidak mempermasalahkan poni-ponian. Maklum, guyuran hujan lebat Sabtu sore jauh lebih dahsyat daripada tuangan air mineral. Tapi perkara kaleng-kalengan, jangan diragukan. Podium pertama pelari individu putri dengan catatan waktu 21 jam di hari Sabtu pukul 8 malam, jauh jauh di bawah COT (cut off time) 34 jam di hari Minggu pukul 9 pagi. So strong! Lalu urusan poni bagaimana? Entahlah, karena saat melintas pita finish, poninya tertutup headlamp yang masih menempel di kepala.


WS6 bertugas melayani pelari sampai Sabtu pukul 11 siang. Itu COP (cut off point)-nya. Dan kami harus pastikan -setidaknya- tidak ada satupun pelari yang kelewatan karena tidak melihat papan besar Water Station kami, atau mobil dengan kap bagian belakang terbuka kami, atau tidak melihat kami, dan sebaliknya, kami tidak melihat pelari. Menunggu, duduk, berdiri, jalan mondar-mandir, melongok dari seberang jalan agar mendapat jangkauan sudut pandang lebih jauh, segala gaya kami lakukan, agar tak mati gaya. Dan yang terpenting adalah mata tetap melek. Agar bisa selalu berbinar-binar saat melihat pelari dari kejauhan, bersiap menyambut saat pelari mendekat, lantas membombardir dengan tawaran standard yang diulang-ulang. “Butuh apa? Refill? Air? Pocari? Semangka? Pisang? Spray? Teh Manis? dan seterusnya, dan seterusnya.” Pokoknya semua persediaan dan perlengkapan yang ada di belakang mobil. Berikut semua keramahan dan ketulusan yang ada di belakang dada. Meraih soft flask pelari, mengisinya penuh, mengembalikan ke kantong di depan running vest-nya. Kurang cinta apa coba?


Cinta? Atau kasihan? Gak kok, beneran cinta ini mah. Melihat dan menunggu satu per satu pelari tiba, ada yang sambil berlari masih sanggup tersenyum, ada yang sambil berlari tapi sudah manyun, ada yang berjalan gagah seolah tidak kepanasan, ada yang berjalan garang padahal keletihan. Ada yang berjalan tidak senyum, tidak manyun, tidak gagah, tidak garang. Kasihan. Eh. Cintaaa…


Cuaca panas lintasan pastinya menyiksa, mencapai 41 derajat Celcius, atau bahkan lebih, saat puncak-puncaknya. Beberapa pelari mulai sesak napas, muntah-muntah, butuh bantuan oksigen dari ambulance yang terus bersiaga. Pesan-pesan mulai muncul di WA Group WS, no BIB sekian sekian DNF (do not finish). Terdengar genting ya…?
Karenanya, setelah pelari terakhir masuk dan keluar dari WS6, pukul 10 pagi, “warung” kami tutup lebih awal, mobil langsung meluncur ke CP2 KM80. Melewati para pelari lelah yang tengah berkelahi dengan matahari…
Di CP2, setor muka sebentar, mengambil ransum makan siang nasi kotak lauk gepuk plus sayur asam, lanjut ke titik berikutnya, WS13 di KM130. Melewati para pelari lelah yang tengah mengiba kepada matahari…

Pukul 11:35, tiba WS13, tidak sempat bertemu pelari-pelari cepat relay kedua yang sama gokilnya dengan pasangannya, mereka sudah berlalu. Pelari terdekat di belakangnya diinfokan masih jauh. Bisa santai dan makan siang. Celakanya, AC (atau hanya hembusan angin) di dalam mobil tidak cukup untuk melawan hawa panas, istirahat yang sia-sia. Lebih baik ke seberang jalan, teras Indomaret jauh lebih sejuk, sedikit, untuk duduk dan berteduh. Sambil menunggu pelari tiba.

Sepuluh kilometer di belakang kami, hujan deras mulai mengguyur, hujan tidak merata, atau mungkin hujan tengah berpacu dengan pelari di lintasan.
Waktu mengalir…
Nun jauh di sana, di Cirebon, di GOR Bima, pukul 13:34, pelari relay putra melompat tinggi mengangkat pita finish.
Waktu mengalir…
Pukul 2 siang lewat, Fau muncul, disusul seorang pelari di belakangnya.
Waktu mengalir…
Deretan no BIB yang DNF bertambah.
Waktu mengalir…
Satu dua pelari tiba.
Waktu mengalir…
Deretan no BIB yang DNF bertambah.
Waktu mengalir…
Satu dua pelari tiba.
Waktu mengalir…
Deretan no BIB yang DNF bertambah.
Waktu mengalir…
Satu dua pelari tiba.
Waktu mengalir…
Deretan no BIB yang DNF bertambah.
Waktu mengalir…
Petang bersiap pergi.
Hujan tiba.
Deras.


“Apa itu jando?”
“Lemak.”
Aku memesan satu tusuk sate jando, satu tusuk sate telur puyuh, dan dua tusuk sate kulit ayam. Nasi kucing pastinya, yang isi ikan teri. Sate-sate dipanggang di atas arang, sembari dioles bumbu, siap dilahap. Enak, enak banget. Terutama jando bakar itu, gurih, yummy. Menikmati sejuk udara malam Majalengka selepas hujan lebat yang baru saja berhenti, menikmati jajanan makan malam warung Angkringan MasBro yang buka sore hingga pukul 2 dini hari di seberang mobil kami yang terparkir sejak siang terik tadi, menikmati duduk di bangku kayu panjang seadanya di pinggir jalan di antara deru bus dan truk yang melaju dan raungan sepeda motor, adalah penggalan cerita yang tidak pernah terbayangkan, penggalan cerita yang tidak akan pernah terulang kembali. Semesta selalu pintar untuk diam-diam menyelipkan potongan-potongan indah dalam perjalanan hidup kita. Aku menghirup susu jahe hangat, “Tambah jandonya satu lagi, sama nasi meongnya, yang teri.”

Lepas satu jam lebih sejak pelari kedelapan melewati WS kami, belum ada satupun pelari berikutnya yang muncul. Saat jam tangan merangkak ke angka 7 malam, detik perlahan berganti menit, tiba pelari yang basah kuyup dengan kepala ditutup kantong plastik kresek, menit perlahan berganti jam, tiba pelari berjaket hujan, satu dua pelari tampak dari kejauhan, dengan sinar senter di kepalanya.

Pukul 21.29, pesan: Masih ada 4 pelari belum masuk WS11
Pukul 21.31, pesan: Masih ada 3 pelari belum masuk WS11
Pukul 21.32, pesan: Masih ada 2 pelari belum masuk WS11


Aku membuka mata, mengumpulkan kembali nyawa. Bangkit dari tikar yang tadi kugelar di atas bidang semen, di pinggir jalan. Di sebelah kiri, di depan kap belakang mobil WS kami yang terbuka, di atas bangku kayu yang kami pinjam dari warung mie ayam bakso sebelah yang telah tutup, seorang pelari terbaring diam.

“Sesak napas…”, HaWong berbisik. Mobil ambulance yang sejak siang terparkir di samping Avanza kami, dengan dua petugas medisnya tampak siaga. Nyaris satu jam, dan pelari individu putri kita bangkit, kembali melangkah, lemah, perlahan melanjutkan petualangan malamnya, petualangan larinya, petualangan hidupnya.

Jam berganti hari. Sabtu berganti Minggu. Langit gelap tanpa bintang, angin meniup jalanan sepi, musik angkringan telah dimatikan. Dari jauh, sorot senter kepala dari pelari-pelari yang masih tersisa, pelari-pelari terakhir, muncul, satu demi satu, bergerak perlahan, berjalan tertatih, kadang terhuyung ke kiri ke kanan, diayun kantuk berat tak tertahankan.

“Butuh apa?”
Diam.
Jawabannya ada di sorot mata.
“Ok, butuh tidur. Itu, di tikar, bisa tidur.”
Sebuah anggukan.
“Tolong bangunkan, Om, limabelas menit.”

Ya Pelari, tidurlah sekarang…

NH

Nicky Hogan's avatar
Posted by:Nicky Hogan

Nicky menjalani hidup limapuluh tahun, gemar berlari empatpuluh tahun, merambah alam tigapuluh tahun, bekerja di pasar modal duapuluh tahun, suka menulis sepuluh tahun. Dan inilah tulisannya.

Leave a comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.